Sunday, March 5, 2017

Jenis Teh yang Terbukti Paling Efektif Turunkan Berat Badan

Secangkir teh merupakan minuman yang sempurna untuk menenangkan sakit tenggorokan, menghangatkan tubuh yang kedinginan, alias kawan saat melihat TV. Tapi, ada teh tertentu yang sempurna untuk menolong Kamu mengikis ekstra kilogram di tubuh.


"Saya pertama kali belajar mengenai kegunaaan teh untuk penurunan berat badan ketika bunda saya menjadi korban diabetes. Bunda merupakan seorang mantan perawat dari Korea serta dirinya mendesak saya untuk mencoba pengobatan Timur ketika jelas bahwa ilmu pengetahuan Barat tak bisa menolongnya,” kata Kelly Choi, penulis serta host agenda TV Bravo's Master Chef.

“Semacam yang saya tuangkan melewati penelitian, jawaban yang sama semakin bermunculan, yaitu teh. Apa yang saya pelajari dalam penelitian saya kemudian saya tulis dalam new Book saya, The 7-Day Flat-Belly Tea Cleanse: The Revolutionary New Plan to Melt Up to 10 Pounds of Fat in Just One Week! Para panelis dalam penelitian, bisa menurunkan berat badan sampai hilang sampai 4,5 Kg hanya dalam satu minggu," lanjut Kelly Choi, yang juga konsultan gaya nasib sehat.

Choi meningkatkankan, teh tertentu tak hanya menolong menghancurkan lemak, tapi juga meningkatkan metabolisme. Inilah jenis-jenis teh yang bisa Kamu percaya untuk menolong program diet.
Jenis Teh yang Terbukti Paling Efektif Turunkan Berat Badan


1. Peningkat Metabolisme: Teh hijau

Teh hijau bisa membuka sel-sel lemak. Sebelum latihan, percepat efek pembakaran lemak dengan meminum secangkir teh hijau.

Dalam suatu  studi yang diperbuat selagi 12 minggu, relawan mengombinasikan latihan selalu selagi 25 menit dengan 4-5 cangkir teh hijau setiap hari, rata-rata kehilangan 0,9 Kg lebih tak sedikit selagi masa penelitian dibanding relawan yang hanya berolahrga tanpa minum teh hijau.

2. Penghancur lemak: Teh Oolong

Teh Oolong sanggup meningkatkan metabolisme. Oolong merupakan nama Cina untuk "naga hitam". Semacam teh hijau, Oolong juga sarat dengan katekin, yang menolong meningkatkan performa tubuh untuk memetabolisme lemak.

Sebuah studi di Cina yang dimuat dalam Journal of Integrative Medicine menemukan, partisipan yang selalu minum teh oolong bisa kehilangan 2,7 Kg dalam periode waktu enam minggu.

Teh Oolong juga mempunyai efek menenangkan. Minum secangkir apabila Kamu merasa gugup alias lelah seusai bekerja seharian.

3. Penekan Nafsu Makan: Teh Mint

Hanya dengan menghirup bau mint saja, nafsu makan Kamu telah bakal bertidak lebih. Kegunaaannya bakal maksimal apabila Kamu meminumnya, sebab itu berarti, Kamu juga mendapat kegunaaan katekin yang tersedia di dalam teh.

Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Journal of Neurological and Ortophedy Medicine menemukan, bahwa orang yang mengendus bau mint setiap dua jam, rata-rata kehilangan 2,3 Kg dalam waktu satu bulan. Mint juga berkegunaaan untuk menghapus mual serta menekan stres.

4. Pencegah Terbentuknya Lemak: Teh Putih

Teh putih berkegunaaan menolong mencegah terbentuknya sel-sel lemak baru.

Teh putih merupakan teh yang dikeringkan dengan cara alamiah di bawah sinar matahari, jadi minim pemrosesan dengan mesin serta paling kaya antioksidan di antara teh lainnya. Teh putih mempunyai antioksidan polifenol tiga kali lebih tak sedikit dari teh hijau.

Jurnal Nutrition and Metabolism menunjukkan bahwa teh putih bisa meningkatkan proses lipolisis (pemecahan lemak) serta mencegah adipogenesis (pembentukan sel-sel lemak). Apabila ada teh diet yang paling ampuh, maka teh putih merupakan yang nomor satu.

5. Penghenti Rasa Lapar: Teh Rooibos

Teh Rooibos berkegunaaan untuk mengatur hormon penyimpan lemak. Teh Rooibos terbuat dari daun tanaman "bush merah" yang tumbuh dengan cara eksklusif di wilayah Cederberg Afrika Selatan, dekat Cape Town.

Yang membikin teh ini sangat baik untuk perut Kamu merupakan kandungan flavanoidnya yang unik serta kuat yang disebut Aspalathin.

Penelitian menunjukkan, senyawa ini bisa mengurangi hormon stres yang memicu kelaparan serta penimbunan lemak yang terkait dengan hipertensi, sindrom metabolik, penyakit kardiovaskuler, resistensi insulin serta diabetes tipe-2.

Artikel Terkait